Murottal Al-Quran

Minggu, 25 April 2010

Celakalah engkau wahai Dinar


“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah
mereka kerjakan dahulu.” (QS Al-Hijr [15] : 92-93)

Sebuah kisah menarik tentang Dinar Al-Ayyar. Dinar mempunyai seorang ibu yang shalihah, yang selalu menasihatinya untuk bertaubat dari kemaksiatan dan dosa-dosanya.

Namun sebanyak apapun dia mencoba, katakatanya tidak pernah membawa pengaruh yang baik terhadap puteranya. Lalu pada suatu hari ketika Dinar berjalan melewati sebuah pemakaman, ia berhenti untuk mengambil sebuah tulang; dia terkejut menyaksikan bagaimana tulang itu remuk dan menjadi debu ditangannya.

Pemandangan tulang itu memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap Dinar. Dia mulai berpikir tentang kehidupan dan dosa-dosanya di masa lalu, kemudia dia berteriak, “Celakalah engkau wahai Dinar, engkau akan berakhir seperti tulang yang hancur ini, dan tubuhmu akan berubah menjadi debu.” Semua dosa di masa lalunya berkelabat di depan matanya, dan dia berketetapan hati untuk beraubat.

Sambil mengarahkan pandangannya ke langit ia berkata, “Tuhanku, kini aku menghadap-Mu dengan kepasrahan yang sempurna, maka terimalah dariku, dan berilah rahmat-Mu kepadaku.”

Dengan ketetapan hati dan pikiran yang telah berubah, Dinar datang kepada ibunya dan berkata, “Wahai ibu, apakah yang dilakukan seorang tuan ketika menangkap budaknya yang telah lari darinya?”

Untuk menghukum Dinar Ibunya berkata, “Tuan itu lalu menyediakan baginya pakaian kasar dan makanan yang buruk, dan mengikat tangan dan kakinya, agar dia tidak mencoba untuk lari lagi.”

Dinar berkata. “Kalau begitu aku ingin pakaian dari kain wol yang kasar, gandum yang buruk dan dua rantai. Wahai ibu, lakukanlah kepadaku apa yang dilakukan terhadap hamba sahaya yang melarikan diri.

Mungkin setelah melihat kehinaan dan kerendahanku, Dia akan merahmati aku.” Melihat ketetapan hati dan kesungguhan permintaan anaknya, ibunya pun menurutinya.

Pada awal malam berikutnya, Dinar mulai menangis dan meratap tak terkendali. Dan dia terus-menerus mengulang kata-kata, “Celakalah engkau wahai Dinar, apakah engkau memiliki kekuaatan untuk menahan api neraka! Betapa tidak tahu malunya dirimu, menjalani hidup yang membuatmu pantas untuk mendapatkan murka Yang Maha Kuasa!” Dia terus berada dalam keadaan demikian sampai pagi.

Menjadi lesu dan pucat, tubuh Dinar perlahan-lahan menjadi kurus. Tak sanggup melihatnya terus meratap dalam keadaan yang menyedihkan itu, ibunya berkata: ”Anakku, kasihanilah dirimu.”

Dia menjawab: ”Ibu, biarlah aku merasa letih selama beberapa saat, mungkin aku bisa mendapatkan kenyamanan yang panjang setelahnya. Karena esok, aku akan menunggu dihadapan Tuhanku yang Maha Tinggi, dan aku tidak tahu apakah Dia akan memerintahkan aku untuk memasuki tempat naungan yang indah, atau ke tempat dengan kengerian yang tak dapat dikatakan.”

Ibunya berkata, ”Anakku, setidaknya beristirahatlah barang sebentar.” Dinar berkata, ”Bukan istirahat di waktu sekarang yang aku cari, ibu. Seolah aku melihat engkau dan orang-orang ditunjukkan jalan menuju Surga esok hari, sedangkan aku ditunjukkan kepada Neraka bersama-sama dengan penghuninya.” Sang ibu lalu meninggalkannya, dan ia kembali menangis, beribadah, dan membaca Al-Qur’an. Suatu malam ketika membaca Al-Qur’an, ia melewati ayat berikut:

”Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (QS Al-Hijr [15] : 92-93)

Ketika dia mentadaburi artinya dan maksud dari ayat tersebut, dia menangis sejadi-jadinya hingga pingsan. Ibunya segera mendatanginya dan berusaha sekuat tenaga untuk menyadarkannya, tetapi dia tidak bereaksi.

Ibunya mengira dia telah mati. Melihat ke wajah anaknya tercinta, dia berkata, ”Duhai anakku sayang, duhai permata hatiku, dimana kita akan bertemu lagi?” Ternyata Dinar masih hidup, dan mendengar perkataan ibunya, dia menjawab dengan suara lirih.

”Ibu, jika engkau tidak menemukanku di padang mashyar yang luas, maka bertanyalah kepada Malik, sang penjaga Neraka, tentangku.” Lalu dia pun mati.

Setelah selesai memandikannya, ibu Dinar mempersiapkan pemakamannya. Dia keluar dan membuat pengumuman. ”Wahai manusia, datangilah shalat jenazah dari seseorang yang terbunuh karena (ketakutannya terhadap) neraka.

” Orang-orang pun berdatangan dari segala penjuru, dikatakan bahwa pada masa itu, tidak ada perkumpulan yang lebih besar dan tidak ada air mata yang ditumpahkan melebihi hari itu.

Pada malam yang sama setelah pemakamannya, salah seorang teman Dinar melihatnya di dalam mimpi, mengenakan jubah hijau. Dinar berjalan dengan gembira mengitari Surga, sambil membaca ayat ini:

”Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.”

Dalam mimpi, temannya mendengar dia berkata: ”Demi Dia yang Maha Kuasa, Dia bertanya kepadaku (tentang amal perbuatanku). Dia merahmatiku, Dia mengampuni dan memaafkanku (dosa-dosaku). Wahai, sampaikanlah berita ini kepada ibuku.”

(Sumber: Stories of Repentance, oleh Muhammad Abdul Mughawiri)

Jumat, 23 April 2010

Dia adalah Saudariku.....!



Kisah berikut ini diambil dari buku Azzaman al-Qadim yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan dibawakan oleh Muhammad Alshareef pada MYNA Zona East Conference. Sebuah kisah yang begitu menyentuh, untuk mengingatkan kita semua agar mensyukuri tarikan nafas kita pada hari ini dengan bersegera pada ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Karena esok, atau mungkin sesaat lagi, kita akan berlalu dari dunia ini, menuju kepada kebahagiaan abadi, atau siksa abadi....!

Pipinya cekung, dan kulitnya membalut tulangnya. Hal itu tidak menghentikannya karena engkau takkan melihatnya tidak membaca Al-Qur’an. Dia selalu terjaga di ruang shalatnya yang ayah bangun untuknya. Ruku’, sujud, dan mengangkat tangannya ketika shalat, seperti itulah dia sejak fajar hingga matahari terbenam dan kembali lagi, kejenuhan itu untuk orang lain (bukan bagi dirnya).

Adapun aku, aku kecanduan tidak lain selain majalah fashion dan novel. Aku keranjingan video hingga perjalanan ke tempat sewa video menjadi trademark-ku.

Ada sebuah pepatah bahwa jika sesuatu telah menjadi kebiasaan, orang-orang akan mengenalimu dengannya. Aku lalai dari kewajibanku dan shalatku ditandai dengan kemalasan.

Suatu malam, setelah tiga jam yang panjang menonton, aku mematikan vedio. Adzan dengan lembut membangunkan malam. Aku menyelinap dengan damai ke dalam selimutku.

Suaranya memanggilku dari ruang shalatnya. ”Ya? Kamu ingin sesuatu Noorah?”
Tanyaku.

Dengan jarum tajam dia memecahkan rencanaku. ”Jangan tidur sebelum kamu shalat Fajar!”

Agghh! ”Masih ada waktu satu jam sebelum Fajar, Itu hanya Adzan pertama.” Kataku.

Dengan suaranya yang merdu dia memanggilku mendekat. Dia selalu seperti itu bahkan sebelum penyakit ganas itu mengguncangkan jiwanya dan menahannya di tempat tidur. ”Hanan, maukah kamu duduk di sisiku?”

Aku tidak pernah dapat menolak permintaannya, engkau dapat merasakan kemurnian dan keikhlasan pada dirinya. ”Ya Noorah?”

’Duduklah disini.”

”Baiklah, aku duduk. Apa yang kau pikirkan?”

Dengan suaranya yang manis dia membaca berhenti sambil berpikir. Kemudian ia bertanya, “Kamu percaya kematian?”



“Tentu saja.” Jawabku.

“Apa kamu percaya kamu akan bertanggungjawab terhadap apapun yang kamu kerjakan, tidak perduli itu kecil atau besar?”

“Aku percaya, tetapi Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, dan kehidupan masih panjang menantiku.”

“Hentikan Hanan! Apa kamu tidak takut dengan kematian dan kedatangannya yang tiba-tiba? Lihat Hind. Dia lebih muda darimu tetapi dia mati dalam kecelakaan mobil.

Kematian buta terhadap usia dan umrmu tidak dapat mengukur kapan kamu akan mati.”

Kegelapan kamar itu memenuhi kulitku dengan ketakutan. “Aku takut gelap dan sekarang kamu menakutiku dengan kematian. Bagaimana aku bisa tidur sekarang?

Norah, kukira kamu sudah berjanji untuk pergi bersama selama liburan musim panas.”

Suaranya pecah dan hatinya gemetar “Aku mungkin akan menempuh perjalanan yang panjang tahun ini Hanan, tetapi di tempat yang lain. Kehidupan kita semua berada di tangan Allah dan kita semua adalah milik- Nya.”

Mataku basah dan air mataku mengalir di kedua pipiku. Aku memikirkan penyakit ganas saudariku. Dokter telah mengabarkan kepada ayahku secara pribadi, tidak banyak harapan Norah dapat mengalahkan penyakitnya. Dia tidak diberitahu, saya jadi bertanya-tanya, siapa gerangan yang mengabarkan kepdanya. Atau apakah dia dapat merasakan kebenaran?

“Apa yang kamu pikirkan Hanan? Suaranya terdengar tajam. “Apa kamu mengira aku mengatakan ini hanya karena aku sakit? Aku harap tidak. Bahkan, aku mungkin hidup lebih lama dari orang-orang yang sehat.

Berapa lama kamu akan hidup, Hanan?

Mungkin dua puluh tahun? Mungkin empat puluh? Lalu apa?” Dalam gelap dia menyentuh tanganku dan menekannya lembut. “Tidak ada perbedaan antara kita.

Kita semua akan pergi meninggalkan dunia ini untuk tinggal di dalam Surga atau
sengsara di dalam Neraka.

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS Al-Imran [3] : 185)

Aku meninggalkan kamar saudariku dalam keadaan limbung, kata-katanya mengiang di telingaku, “Semoga Allah menunjukimu Hanan, jangan lupakan shalatmu.”

“dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia),” QS Al-Qiyamah [75] : 28)

ku mendengar gedoran di pintuku pada pukul delapan pagi. Aku tidak biasa bangun
di waktu seperti ini. Ada tangisan dan kebingungan. Ya Allah, apa yang terjadi?

Kondisi Norah menjadi kritis setelah Fajar, mereka segera membawanya ke rumah sakit.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Tidak akan ada perjalanan musim panas ini. Telah ditakdirkan aku akan menghabiskan musim panas di rumah.

Seolah waktu berlalu selamanya ketika tiba jam 1 siang. Ibu menelepon rumah sakit.

“Ya, kalian bisa datang dan menjenguknya sekarang.” Suara ayah berubah dan ibu dapat merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi. Kami segera berangkat.



Dimana jalan yang sering kulewati dan kukira sangat singkat? Mengapa ini terasa
begitu lama? Dima keramaian dan lalu lintas yang selalu memberiku kesempatan untuk menoleh ke kiri dan ke kanan? Semua orang menyingkir dari jalan kami!


Ibu menggelengkan kepalanya dalam tangannya menangis ketika ia berdoa bagi
Norah. Kami tiba di loby rumah sakit. Seorang laki-laki mengerang, sedangkan
yang lainnya korban kecelakaan. Dan mata laki-laki ketiga terlihat sedingin es. Engkau tidak bisa memastikan apakah dia mati atau hidup.

Norah berada dalam ruang ICU. Kami menaiki tangga menuju ke lantai (kamar)nya.
Suster mendekati kami, “Mari kuantarkan kepada Norah.”

Ketika kami berjalan sepanjang koridor, suster bercerita betapa manisnya Norah. Dia sedikit banyak meyakinkan ibu kalau keadaan Norah lebih baik daripada pagi tadi.

“Maaf. Tidak boleh lebih dari satu orang pengunjung memasuki kamar.” Kata suster
tersebut.

Ini adalah kamar ICU. Menatap ke arah jubah putih selembut salju, melalui jendela kecil di pintu, aku melihat mata saudariku. Ibu berdiri di sisinya. Setelah kurang-lebih dua menit, ibu keluar tak dapat menahan tangisnya. “Kamu boleh masuk dan
mengucapkan salam kepadanya dengan syarat kamu tidak berbicara terlalu lama dengannya,” mereka berkata kepadaku. “Dua menit cukup.”

“Bagaimana keadaanmu Norah? Kamu baikbaik saja semalam saudariku, apa yang terjadi?”

Kami berpengangan tangan, dia menekannya lembut. “Sekarang pun, alhamdulillah, aku baik-baik saja.”

“Alhamdulillah... tapi.. tanganmu sangat dingin.”

Aku duduk di sisi tempat tidurnya dan meletakkan tanganku di lututnya.

Ia tersentak, “Maaf, sakit ya?”
“Tidak, hanya saja aku teringat firman Allah.”

“dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan).” (Al-Qiyamah [75] : 29)

“Hanan doakan aku. Mungkin aku akan segera bertemu hari pertama dari hari akhirat (yakni di kuburan). Itu adalah perjalanan yang panjang dan aku belum mempersiapkan amalan yang cukup dalam perbekalanku.”

Sebutir air mata menitik dan meluncur ke pipiku mendengar kata-katanya. Aku menangis dan dia ikut menangis bersamaku.

Ruangan menjadi kabur dan membiarkan kami dua bersaudara menangis bersama. Tetesan air mata jatuh ke telapak tangan saudariku, yang kugenggam dengan kedua tanganku. Ayah saat ini menjadi lebih khawatir kepadaku. Aku tak pernah mangis seperti ini sebelumnya.

Di rumah dan ditingkat atas di kamarku, aku menyaksikan matahari berlalu dengan hari yang penuh kesedihan. Kesunyian mengapung di koridor rumah kami.

Secara bergiliran sepupu-sepupuku masuk ke kamarku. Banyak pengunjung dan semua suara bercampur baur di lantai bawah.

Hanya satu hal yang jelas saat itu – Norah telah pergi!

Aku berhenti membedakan siapa yang datang dan siapa yang pergi. Aku tidak dapat mengingat apa yang mereka katakan. Ya Allah, dimana aku? Apa yang terjadi?

Aku bahkan tidak dapat menangis lagi.

Beberapa hari kemudian mereka menceritakan kepadaku apa yang terjadi. Ayah telah manarik tanganku untuk mengucapkan selamat tinggal kepada saudariku untuk yang terakhir kalinya. Aku mencium kepala Norah.

Aku hanya teringat satu hal ketika menyaksikannya terbujur di tempat tidur tempat dimana dia akan mati. Aku teringat ayat yang dibacanya: Waltaffatitis saaqu bissaaqi “dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan).”

Dan aku tahu pasti kebenaran ayat berikutnya: “kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.” (QS Al-Qiyamah [75] : 30)

Aku menyusup ke ruang shalatnya malam itu. Menatap pada pakaian yang diam dan cermin yang bisu. Aku sungguh menjaga dia yang telah berbagi rahim ibuku denganku. Norah adalah sadara kembarku.

Aku teringat dia yang dengannya aku berbagi kesedihan, memberi ketenangan di hari-hari hujanku. Aku teringat dia yang berdoa agar aku mendapat petunjuk dan dia yang menitikkan begitu banyak air mata pada kebanyakan malam yang panjang mengingatkanku akan kematian dan hisab. Semoga Allah menyelamatkan kami semua.

Malam ini adalah malam pertama Norah yang harus ia lewatkan di kuburnya. Ya Allah, rahmatilah dia dan terangilah kuburnya. Inilah Al-Qur’an dan sajadahnya. Dan inilah pakaian berwarna mawar musim semi yang dia kata-kan kepadaku akan disimpannya sampai dia menikah, pakaian yang hanya di-simpannya untuk suaminya kelak.

Aku teringat saudariku dan menangisi semua hari-hari yang telah lalu. Aku berdoa kepada Allah agar melimpahkan rahmatnya kepada kami, menerima ibadahku dan mengampuniku. Aku berdoa kepada Allah untuk meneguhkan Norah di dalam kuburnya sebagaiamana yang selalu ia ucapkan di dalam doanya.

Pada saat itu, aku berhenti. Aku bertanya kepada diriku apa jadinya jika akulah yang mati. Kemana aku akan menuju? Ketakutan memenuhiku dan air mataku mulai mengalir lagi.



Allahu Akbar. Allahu Akbar.... “Adzan pertama terdengar lembut dari masjid. Ia terdengar begitu indah kali ini. Aku merasa tenang dan nyaman ketika mengikuti bacaan muadzin. Kulilitkan syal di pundakku dan berditi untuk shalat Fajar. Aku shalat seolah itulah shalat terakhirku, shalat perpisahan. persis seperti apa yang Norah lakukan kemarin. Itu adalah shalat Fajar terakhirnya.

Kini, dan Insya Allah sepanjang sisa hidupku, jika aku bangun di pagi hari aku tidak lagi menganggap akan hidup hingga malam, dan di malam hari aku tidak menganggap akan tetap hidup di pagi hari. Kita semua akan menuju perjalanan Norah. Apa yang telah kita persiapkan untuknya?

Sumber: Milis Abdurrahman [dot] Org

Kisah Seuntai Kalung Mutiara


Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi al-Anshari tinggal di Makkah. Setelah melewati waktu yang lama tanpa makanan lebih dari apa yang bisa ditahannya dia menjadi kelaparan dan tidak ada sesuatu yang dapat ditemukan untuk menghilangkan rasa laparnya. Ketika ia berjalan di kota Makkah memikirkan keadaannya, ia menemukan sebuah sebuah tas sutera yang diikat oleh tali sutera pula.

Lalu ia mengambilnya dan membawanya pulang ke rumah. Disana ia membuka tas tersebut dan mendapatkan seuntai kalung mutiara yang tidak pernah ia lihat yang seindah dan dan bernilai seperti kalung itu selama hidupnya.

Namun, jika dia merasa begitu bergembira menemukan barharga berharga seperti itu, kegembiraan itu akhirnya menghilang. Karena ketika ia keluar ke jalan, ia bertemu dengan seorang tua yang mengumumkan bahwa ia telah kehilangan sebuah tas sutera yang berisi kalung yang sangat berharga.

Orang tua tersebut berkata bahwa tersedia hadiah sebesar 500 dinar bagi orang yang mengembalikan tas beserta kalung itu. Banyak orang telah diuji dengan tes serupa (maksudnya pencarian kalung tersebut-pent) mengalami kegagalan, khususnya orang-orang miskin dan orang-orang sangat tergoda dengan nilai benda tersebut. Namun tidak demikian halnya dengan Imam Abu Bakar. Bukannya memikirkan keadaan dirinya, mengajak orang tua itu ke rumahnya dan memintanya untuk menggambarkan tas tersebut, tali pengikat tas, mutiara, serta rantai pengikat mutiara tersebut. Orang tua itu tentu saja memberikan gambaran yang tepat mengenai segala hal, sehingga Imam Abu Bakar mengambil benda yang hilang tersebut dan memberikan kepadanya.

Orang tua itu segera mengambil uang 500 dinar dan mencoba memberikannya kepada Imam Abu Bakar. Namun Imam Abu Bakar menolaknya dan mengatakan bahwa adalah kewajibannya dalam agama untuk mengembalikan barang yang hilang tersebut dan oleh sebab itu tidak pantas baginya untuk mengambil hadiah setelah memenuhi kewajiban tersebut. Orang tua tersebut berusaha untuk memaksa selama beberapa saat, akan tetapi Imam Abu Bakar bersikeras bahwa ia tidak akan mengambil uang itu. Orang tua itu pun kemudian pamit dan pergi.

Tidak lama setelahnya, Imam Abu Bakar berpikir untuk mencari kehidupan yang lain dan sumber penghidupan yang baru, ia meninggalkan kota Makkah dan menjadi penumpang sebuah Kapal . Dalam perjalanannya, kapal tersebut tenggelam. Dan sebagai akibatnya banyak orang yang meninggal, tenggelam besama kapal ke dasar laut.

Kapal tersebut pecah berkeping-keping, dan dengan susah payah Imam Abu Bakar berhasil berpengangan pada salah satu potongan kapal dan tetap mengapung. Ia terus berpegangan pada potongan kapal tersebut selama waktu yang panjang dan ketika ia terdampar pada sebuah pulau yang berrpenghuni, ia tidak mengingat berapa lama ia telah mengapung sendirian di tengah laut.

Sebagai orang baru di pulau itu, ia tidak mengenal seorang pun, dan ia membutuhkan tempat untuk beristirahat dan memulihkan dirinya. Ia duduk di sebuah Masjid. Ketika duduk di dalam masjid sambil membaca Al-Qur’an banyak orang yang mendengarkan dan mendekatinya, memintanya untuk mengajarkan Al-Qur’an.

Dia merasa sangat gembira mengajar mereka. Dan sebagai balasan atas jasanya (mengajar) mereka membayarkan dengan sejumlah besar uang. Kemudian dia menemukan mushaf Al-Qur’an. Akhirnya ia mendapatkan kesempatan untuk membaca langsung dari Al-Qur’an dan tidak sekedar membacanya berdasarkan ingatannya. Ternyata setidaknya sebagian besar penduduk pulau tersebut buta huruf. Melihat ia bisa membaca, pemimpin orang-orang itu mendekatinya dan bertanya apakah dia dapat menulis. Dia membenarkannya. Maka orang-orang itu pun berkata; ”Ajarilah kami menulis.” Mereka kemudian membawa anak-anak dari segala umur kepadanya dan dia kemudian menjadi guru mereka. Dan dia (imam Abu Bakar) kembali mendapat bayaran yang sangat besar.

Merasa senang dengan kepribadian dan ilmu sang pendatang baru, pemimpin pulau itu mendekatinya dan berkata: ”Diantara kami hidup seorang gadis muda yatim yang kaya, dan kami ingin engkau menikahinya.” Pada awalnya Imam Abu Bakar menolaknya namun mereka terus memaksanya. Akhirnya ia menyerah dan setuju untuk menikahi gadis itu.

Pada hari pernikahannya, pemimpin pulau itu menghadirkan pengantin kehadapan Imam Abu Bakar. Dengan sorot mata penuh takjub, ia mulai menatap pada kalung yang dikenakan gadis itu. Begitu lama ia terpaku menatapnya hingga pemimpin pulau itu berkata: ”Engkau telah menyakiti hati gadis ini, karena bukannya menatapnya engkau malah menatap kalungnya.”

Imam Abu Bakar kemudian menceritakan kisahnya dengan seorang laki-laki tua di Makkah. Orang-orang yang hadir lalu bersyahadat dan bertakbir. Suara mereka begitu keras hingga dapat terdengar oleh seluruh penghuni pulau tersebut.

Imam Abu Bakar berkata, ”Ada apa dengan kalian?”

Mereka berkata: ”Orang tua yang mengambil kalung itu darimu adalah ayah dari gadis ini dan ia selalu berkata: ’Saya belum pernah menemukan seorang Muslim yang sejati dan ikhlas di dunia ini kecuali orang yang mengembalikan kalung ini’, dan dia selalu berdoa: ”Ya Allah, pertemukanlah aku dengan laki-laki itu agar aku dapat menikahkan puteriku dengannya.’” Dan kini, hal tersebut menjadi kenyataan.

Imam Abu Bakar tetap hidup manakala isteri dan anak-anaknya meninggal, dan mewarisi kalung tersebut. Dan kemudian dia menjualnya seharga 100.000 dinar. Ia menjadi seorang yang kaya raya di akhir hidupnya.

Dr. Saleh As-Saleh dalam audio lecture beliau juga membacakan kisah ini. Beliau berkata bahwa ini adalah sebuah kisah yang menakjubkan yang dibawakan oleh Ibnu Rajab dalam komentarnya terhadap biografi Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi (wafat 535 H) dalam Tahabaqat al-Hanabilah, sebagaimana yang dikisahkan Al-Qadhi Abu Bakar kepada Al-Baghdadi. Sumber: Transkirp Audio Book : Gems and Jewels from the Salaf

Minggu, 07 Februari 2010

Kenali Sahabatmu


LIhatlah, Siapa Gerangan Sahabatmu?

Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Seseorang itu tergantung agama temannya, maka hendaklah salah seseorang dari kalian memperhatikan dengan siapa ia akan berteman.”
(HR Abu Dawud, no. 4833 dan At-Tirmdzi)

“Janganlah bersahabat, kecuali dengan orang yang beriman, dan janganlah makan makananmu, kecuali orang yang bertakwa.”
(HR. Abu Dawud no. 4873, At-Tirmidzi, no. 2395)

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Bagi penjual minyak wangi, boleh jadi ia menyengatmu, atau engkau membeli darinya. Mungkin juga engkau hanya mendapatkan bau wangi darinya. Adapun pandai besi, bisa jadi ia membakar bajumu atau engkau mendapat bau tidak sedap darinya.” (HR Bukhari Muslim)

Zainal Abidin Ali bin Husain bin Ali ra berkata: “Selayaknya seseorang berteman dengan orang yang dapat memberinya manfaat dalam perkara agamanya.”

Al-Hasan al-Bashri ra berkata:
“Saudara-saudara kami lebih kami cintai dari keluarga dan anak-anak kami. Sebab keluarga kami mengingatkan kami akan dunia, sedangkan saudara-saudara kami mengingatkan kami akan akhirat.” (sumber: Setinggi Cita Wanita Perindu Surga)

Salah seorang ulama berkata: “Teman itu ada tiga, teman yang seperti udara, teman yang seperti obat, dan teman yang seperti racun.”

Teman yang seperti udara adalah teman yang kamu yang kamu tidak akan pernah merasa cukup dengannya, ia senantiasa mendekatkan dirimu kepada Allah dan memperkenalkamu dengan-Nya, ia juga membuatmu senang untuk selalu mengingat-Nya.

Teman yang seperti obat adalah teman yang selalu memberikan manfaat, namun kamu tidak memerlukannya kecuali kamu membutuhkannya, sebagaimana kamu jarang memerlukan pembuat roti, tukang kayu, tukang jahit, dan yang semisalnya.

Adapun teman yang seperti racun adalah teman yang selalu mendzalimi kamu, ia seperti racun yang dapat membunuh dengan cepat, ia adalah teman yang akan mendekatkan kamu kepada neraka dan menuntunmu untuk hidup hina di dunia dan di akhirat.

(sumber: Setinggi Cita Wanita Perindu Surga oleh Hasan bin Muhammad ass-Syarif)

Minggu, 31 Januari 2010

Milyuner Dermawan yang luar biasa


Abdurrahman Bin Auf ra

Setelah perintah hijrah ke Madinah diturunkan, berangkatlah sejumlah besar kaum muslimin untuk memenuhinya dengan tanpa membawa harta maupun perbekalan yang cukup. Sehingga ketika sesampainya di Madinah, Rasulullah salallahu alaihi wasallam mempersaudarakan antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar agar terbentuk tali persaudaraan yang kuat dan juga untuk meringankan beban kaum Muhajirin.

Maka, salah seorang sahabat Rasulullah salallahu alaihi wasalam yang terkenal, yaitu Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan seorang An-Shar yang kaya raya, yaitu Sa’ad bin Rabi’.

Berkata Sa’ad kepada Abdurrahman bin Auf “Saudaraku, aku adalah penduduk madinah yang kaya raya, silahkan pilih separuh hartaku dan ambillah! Dan aku mempunyai dua orang istri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatianmu, akan ku ceraikan ia hingga engkau dapat memperistrinya.” Namun, jawab Abdurrahman bin Auf. “Semoga Allah memberkatimu, istri dan hartamu! Tunjukkanlah letaknya pasar agar aku dapat berniaga.”

Setelah diberi petunjuk lokasi pasar, Abdurrahman bin Auf pergi tanpa berbekal modal, lalu berjual beli disana. Sepulangnya dari pasar, ia pun memperoleh keuntungan yang besar yang tak disangka-sangka. Dan tak lama berselang, ia sudah menjadi milyuner baru di kota Madinah.

Keberuntungan Abdurrahman bin Auf dalam perniagaan memang sangat luar biasa, sampai suatu batas yang membangkitkan dirinya rasa takjub dan heran, hingga katanya, “sungguh kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan dibawahnya emas dan perak.”

Perniagaan bagi Abdurrahman bin Auf bukan berarti rakus dan hina. Bukan pula suka menumpuk harta atau hidup mewah dan ria! Malah itu adalah suatu amal dan tugas kewajiban yang keberhasilannya akan menambah dekatnya jiwa kepada Allah dan berkurban di jalan-Nya.

Pada suatu hari setelah wafatnya Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam kota madinah sedang aman dan tentram, tiba-tiba dari arah pinggir kota terlihat debu tebal yang mengepul ke udara, semakin lama gumpalan debu semakin tinggi menutup pemandangan. Angin yang bertiup menyebabkan gumpalan debu kuning dari butiranbutiran saharayang lunak, terbawa menghampiri pintu-pintu kota, banyak yang menyangka ada angin rebut yang menyapu dan menerbangkan pasir, namun dari balik tirai debu segera terdengar hiruk pikuk yang nenandakan tibanya kafilah besar perniagaan.

Tidak lama kemudian sampailah 700 kendaraan yang sarat dengan muatannya, memenuhi jalan-jalan madinah dan menyibukkan penduduknya. Mereka saling memanggil untuk menyaksikan datannya rezeki yang dibawa kafilah itu. Melihat tingkat kesibukan masyarakat yang sangat tinggi diluar kebiasaannya, Ummul Mukminin “Aisyah ra bertanya, “Apa yang telah terjadi di Kota Madinah..? Mendapat jawaban, bahwa kafilah Abdurrahman bin Auf baru datang dari syam membawa barang-barang dagangannya, Ummul mukminin berkata : “kafilah yang telah membuat kesibukan ini?” benar ya umummul mukminin.. karena ada 700 kendaraan…! Ummul Mukminin menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil melayangkan pandangannya jauh menembus, seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadian yang pernah di lihat atau ucapan yang pernah di dengarnya. Beliau berkata : “Ingat..! aku pernah Rasulullah salallahu alaihi wa sallam bersabda : “Kulihat Abdurrahman bin Auf masuk syurga dengan perlahan-lahan!”.

Sebagian shahabat menyampaikan perkataan ‘Aisyah kepadanya, maka ia pun teringat sering mendengar kalimat itu dari Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam dan sebelum tali-temali perniagaan dilepaskan, diarahkan langkahnya dengan mantap menuju rumah Ummul Mukminin lalu berkata kepadanya, “Anda telah mengingatkan saya perkataan kekasih kita yang tak pernah saya lupakan. Dengan ini saya berharap dengan sangat anda menjadi saksi bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya saya persembahkan di jalan Allah Azza wa jalla..!”

Maka dibagikannyalah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai perbuatan baik yang maha besar. Peristiwa yang satu ini cukuplah untuk menggambarkan kesempurnaan iman shahabat Rasulullah salallahu alaihi wa sallam, Abdurrahman bin Auf ra. Dialah pengusaha yang berhasil, keberhasilan yang paling besar dan sempurna. Dialah milyuner yang berhasil dunia akhirat, kekayaan yang paling banyak dan melimpah ruah..! Dialah mukmin yang bijaksana, yang tak sudi kehilangan syurga akhiratnya hanya karena dunia yang sedikit, tak rela tertinggal dari kafilah iman bersama rasulullah salallahu alaihi wa sallam hanya karena kesibukan duniawi. Itulah milyuner kita Abdurrahman bin Auf ra.

Beliau termasuk shahabat ke-delapan yang masuk islam sejak fajar Nur Illahi baru menyingsing. Hingga pada suatu hari, ketika hidangan istimewa untuk berbuka dihadapkan kepadanya, tiba-tiba ia menangis dengan deraian air mata sambil berkata :
“Mush’ab bin Umair telah gugur sebagai syahid, ia seorang yang jauh lebih baik daripadaku, ia hanya mendapat kafan sehelai burdah. Jika ditutupkan ke kepalanya, maka kelihatan kakinya, dan jika ditutupkan kedua kakinya terbuka kepalanya. Begitupun dengan Hamzah, ia pun gugur sebagai syahid, dan disaat akan dikuburkan, hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah dihamparkan bagi kami dunia seluas-luasnya, dan telah diberikan pula kepada kami hasil sebanyak-banyaknya. Sungguh kami khawatir kalau-kalau telah didahulukan pahala kebaikan kami…!”

Jumat, 29 Januari 2010

Hormatilah Ibumu SURAT IBU KEPADA ANAK DURHAKA (terjemahan)



Posting ini diambil dari buku terjemahan yaitu berupaya mengungkapkan curahan hati seorang Ibu dalam sepucuk surat yang beliau tujukan untuk anaknya yang sudah berangkat dewasa, dalam sepucuk surat tersebut tergambar begitu besarnya kasih dan sayang seorang ibu untuk anaknya dan begitu besar harapannya agar sang anak berada dalam kebaikan dalam setiap keadaan,hal ini bisa menggugah dan mengingatkan kita akan jasa besar Ibu-ibu kita dalam mendidik dan membesarkan kita.semoga bisa menjadi bahan renungan buat kita semua dan ada banyak ibroh yang kita dapatkan dan bisa menjadi bahan muhasabah khususnya buat saya pribadi dan umummya buat pembaca sekalian.. selamat menyimak dan harap dibaca sampai tuntas ya...

Wahai Anakku!
Inilah surat dari ibumu yang lemah, yang ditulis dengan penuh rasa malu setelah lama mengalami keraguan dan kebimbangan. Ibu pegang penanya berkali-kali lantas terhenti, dan ibu letakkan lagi pena itu karena air mata berlinang berkali-kali yang disusul dengan rintihan hati.

Wahai Anakku!
Sesudah perjalanan waktu yang panjang, ibu rasa engkau sudah dewasa dan memiliki akal sempurna maupun jiwa yang matang. Sedangkan ibu punya hak atas dirimu, maka bacalah sepucuk surat ini; dan jika tidak berkenan robek-robeklah sebagaimana engkau telah merobek-robek hati ibu.

Wahai Anakku!
Dua puluh lima tahun yang lalu adalah hari yang begitu membahagiakan hidup ibu. Ketika dokter memberitahu ibu, ibu sedang mengandung. Semua ibu tentu mengetahui makna ungkapan itu, yakni terhimpunnya kebahagiaan dan kegembiraan, serta awal perjuangan seiring dengan adanya berbagai perubahan fisik maupun psikis. Sesudah berita gembira itu ibu peroleh, dengan senang hati, ibu mengandungmu selama sembilan bulan.

Ibu berdiri, tidur, makan dan bernafas dengan susah payah. Namun itu semua tidak menyebabkan surutnya cinta ibu padamu dan kebahagiaan ibu menyambut kehadiranmu. Bahkan rasa cinta dan kerinduan ibu padamu tumbuh subur dan berkembang hari demi hari. Ibu mengandungmu dalam kondisi yang lemah dan bertambah lemah, payah dan bertambah payah. Ibu sangat bahagia meski bobotmu semakin berat, padahal kehamilan itu sangat berat bagi ibu.

Itulah perjuangan yang akan disusul dengan cahaya fajar kebahagiaan setelah berlalunya malam panjang, yang membuat ibu tidak bisa tidur dan kelopak mata ibu tak bisa terpejam. Ibu merasakan derita yang sangat, rasa takut dan cemas yang tak bisa dilukiskan dengan pena dan tak sanggup diungkapkan dengan retorika lisan. Ibu telah berkali-kali melihat kematian dengan mata kepala ibu sendiri, sehingga akhirnya engkau lahir ke dunia ini. Air mata tangismu yang bercampur dengan air mata kegembiraan ibu telah menghapus seluruh derita dan luka yang ibu rasakan.

Wahai Anakku!
Telah berlalu tahun demi tahun dari usiamu, dan dirimu selalu ibu bawa dalam hati ibu. Ibu memandikanmu dengan kedua tangan ibu. Pangkuan ibu sebagai bantalmu. Dada ibu sebagai makananmu. Ibu berjaga semalaman agar engkau bisa tidur. Ibu susuri siang hari dengan keletihan demi kebahagiaanmu. Dambaan ibu tiap hari adalah melihatmu tersenyum. Dan idaman ibu setiap saat adalah engkau meminta sesuatu yang ibu sanggup lakukan untukmu. Itulah puncak kebahagiaan ibu.

Itulah hari-hari dan malam yang ibu lalui sebagai pelayan yang tak pernah menyia-nyiakanmu sedikit pun. Sebagai wanita yang menyusuimu tiada henti, dan sebagai pekerja yang tak pernah putus hingga engkau tumbuh dan menjadi seorang remaja. Dan mulailah nampak tanda-tanda kedewasaanmu. Ketika itu pula, ibu kesana kemari mencarikan calon istri yang kau inginkan. Lalu tibalah saat pernikahanmu. Denyut jantung ibu terasa berhenti dan air mata ibu deras bercucuran karena gembira melihat hidup barumu dan karena sedih berpisah denganmu.

Saat-saat yang begitu berat telah lewat. Namun engkau seolah bukan lagi anak ibu, seperti yang ibu kenal selama ini. Sungguh engkau telah mengabaikan diri ibu dan tidak mempedulikan hak-hak ibu. Hari-hari berlalu dan ibu tidak lagi melihatmu dan tidak pula mendengar suaramu. Engkau masa bodoh kepada ibu yang selama ini menjadi pelayan yang mengurusimu.

Wahai Anakku!
Ibu tidak meminta apa pun selain posisikanlah diri ibu ini seperti kawan-kawanmu yang terdekat denganmu. Jadikanlah ibu sebagai salah satu terminal hidupmu sehari-hari, sehingga ibu dapat melihatmu meskipun sekejap.

Wahai Anakku!
Punggung ibu telah bongkok. Anggota tubuh ibu telah gemetaran. Beragam penyakit telah membuat ibu semakin ringkih. Rasa sakit senantiasa mendera ibu. Ibu sudah susah untuk berdiri maupun duduk, namun hati ibu masih sayang padamu.

Andaikan ada seseorang yang memuliakanmu sehari, tentu engkau akan memuji kebaikannya dan keelokan budinya. Padahal, ibumu ini telah benar-benar berbuat baik kepadamu, namun engkau tak melihatnya dan tak mau membalas kebaikannya. Ibumu telah menjadi pelayanmu dan telah mengurusmu bertahun-tahun. Lantas manakah balas budi dan hak ibu yang harus engkau tunaikan? Sekeras itukah hatimu? Apakah hari-hari sibukmu telah menyita seluruh waktumu?

Wahai Anakku!
Ibu merasakan kebahagiaan dan kegembiraan bertambah saat melihatmu hidup bahagia, karena engkau adalah buah hati ibu. Apa salah ibu sehingga engkau memusuhi ibu, tak suka melihat ibu, dan engkau merasa berat untuk mengunjungi ibu? Apakah ibu pernah berbuat salah padamu atau pelayanan ibu kurang memuaskanmu?

Jadikanlah ibu seperti pelayan-pelayanmu yang engkau beri upah. Curahkanlah setitik kasih sayangmu. Renungkanlah jasa ibu dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah amat menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Wahai Anakku!
Ibu sangat berharap bisa bersua denganmu. Ibu tak ingin apapun selain itu. Biarkanlah ibu melihat muramnya wajahmu dan episode-episode kemarahanmu.

Wahai Anakku!
Sisakan peluang di hatimu untuk berlembut-lembut dengan seorang wanita renta, yang diliputi kerinduan dan dirundung kesedihan ini. Yang menjadikan kedukaan sebagai makanannya dan kesedihan sebagai selimutnya. Engkau cucurkan air matanya. Engkau membuat sedih hatinya dan engkau memutuskan hubungan dengannya.

Ibu tidak mengeluhkan kepedihan dan kesedihan ibu kehadirat-Nya, karena jika ibu adukan perkara ini ke atas awan dan ke pintu gerbang langit sana, ibu khawatir hukuman akan menimpamu, dan musibah akan terjadi dalam rumah tanggamu, lantaran kedurhakaanmu. Karena ibu teringat peringatan junjungan kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Maukah kalian aku sampaikan tentang dosa yang terbesar?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengucapkannya tiga kali. Para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR. Bukhari).

“Tidak masuk surga orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.” (HR. Ahmad).

“Tiga golongan orang yang tidak akan dilihat (dengan pandangan rahmat) oleh Allah pada hari kiamat; orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, orang yang suka minum minuman keras, orang yang suka mengungkit pemberiannya.” (HR. Nasaai dan dinyatakan shahih oleh Albani).
“Terlaknat orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.” (HR. Hakim dan Thobrani serta dinyatakan shahih oleh Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib, 2/334).

Tidak, ibu tidak menginginkan itu. Engkau tetap menjadi buah hati dan hiasan dunia ibu.

Camkanlah wahai Anakku!
Ketuaan mulai nampak dalam belahan rambutmu. Tahun demi tahun akan berlalu, dan engkau akan menjadi tua renta, sedangkan setiap perbuatan pasti akan dibalas setimpal. Engkau akan menulis surat kepada setiap anak-anakmu dengan cucuran air mata, sebagaimana yang ibu tulis untukmu. Dan di sisi Allah, akan bertemu orang-orang yang berselisih, hai Anakku. Maka bertakwalah engkau kepada Allah terhadap ibumu. Usaplah air matanya dan hiburlah agar kesedihannya sirna.

Robek-robeklah surat ini setelah engkau membacanya. Namun ketahuilah, siapa saja yang beramal shaleh, maka keshalehan itu buat dirinya sendiri, dan siapa yang berbuat jahat, maka balasan buruk bakal menimpanya.

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa berbuat jahat, maka (dosanya) menjadi tanggungannya sendiri. Dan Rabbmu sekali-kali tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushshilat: 46).

Bahan rujukan: Qashash Mu’atstsirah fi Birr wa ‘Uquqil Walidain (terjemahan) karya Fathurrahman Muhammad Jamil, dan lain-lain. (Al Fikrah)

Kamis, 28 Januari 2010

HARUSKAH KITA MENGEJAR NYA?


Apabila musim pemilu/pilkada telah tiba, banyak sekali tokoh dari berbagai elemen masyarakat berminat dan berambisi tuk jadi pejabat baik sebagai presiden, wakil rakyat, gubernur, walikota, bupati, camat, lurah hingga ketua rt di lingkungan tempat kita tinggal, semua berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dan yang paling tepat untuk ditawarkan ke pemilih.

Berbagai cara dilakukan untuk menarik simpati pemilih disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing mulai dari renovasi berbagai sarana rakyat misalnya sarana olah raga, sarana ibadah, dan kegiatan sosial mulia lainnya.

Namun sayang, musim penuh kebaikan itu hanya sesaat saja, setelah lewat musim tersebut, lewat pula semua kebaikan-kebaikan tersebut, semua masarakat kembali ke posisi masing-masing.

Ditengah hiruk pikuknya musim kampanye dengan segala atributnya guna menarik simpati pemilih, ada yang tulus memberikan semua bantuan dan kebaikan-kebaikannya namun tak sedikit pula ada “udang di balik batu” he.. sayang sekali amal yang bagus tidak diiringi dengan niat yang tulus nan lurus, semua hanya untuk memikat simpati pemilih saja,,

Hal ini membuat bertanya-tanya, kenapa pada semangat mengejar dan memburu jabatan dunia? Padahal kekasih Allah Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda : "Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan (jabatan) Karena se¬sungguhnya jika engkau diberi kepe¬mimpinan karena permintaanmu maka engkau akan diserahkan kepadanya (tidak ditolong oleh Allah). Jika engkau diberi tanpa meminta maka engkau akan dibantu melaksanakannya". (HR. Bukhary dan Muslim).

Sebetulnya ada apa gerangan dibalik jabatan tersebut? Apakah menganggap jabatan sebagai lahan basah yang menjanjikan keuntungan materi? Apakah berfikir dengan mengemban jabatan, dapat leluasa menggunakan harta umat untuk kepentingan pribadi dan keluarga? Jika itu yang terlintas da¬lam benak pemburu jabatan, sungguh menyesal ibu mengandung. Manusia modern yang tak pernah memahami hakikat amanah dan untuk apa kita diciptakan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Mampukah kita menjadikan Umar bin Khattab radhiallahu `anhu sebagai panutan? Memikul sekarung gandum seorang diri, ditengah malam yang senyap sunyi, hanya karena takut ditanya Ilahi, ketika satu keluarga janda miskin dan anak-anaknya sedang kelaparan. Dengan penuh tanggung jawab dan rasa takut pada Allah Subhanahu wa Ta'ala beliau pernah berucap; "Seandainya ada seekor kambing di Syam yang tergelincir hingga jatuh ke jurang, niscaya aku akan ditanya pada hari kiamat kelak kenapa tidak engkau perbaiki jalan tersebut, wahai Umar?"

Sungguh menjadi sebuah prototype pemimpin yang luar biasa yang hendaknya dijadikan teladan buat kita semua, bukan sebaliknya,, pejabat yang tiap hari melintas di jalan yang berlubang menganga sama sekali di biarkan begitu saja, entah apa alasannya, bahkan tak sedikit masyarakat yang melihat jalan yang berlubang dan banyak kubangan air, sebagai bentuk kekesalannya tak sedikit yang menanam pohon pisang di jalan yang rusak tersebut..he..

Kekasih Allah Shallallahu `Alaihi wa Sallam pemah berpesan "Demi Allah, tidaklah seseorang dari kalian mengam¬bil sesuatu yang bukan haknya kecuali ia akan datang menghadap Allah sambil membawa apa yang diambilnya itu pada hari kiamat". (HR. Bukhary dan Muslim)

Takutlah kepada Allah. Waspadalah terhadap fitnah dunia, yang terlihat begitu mempesona, dipelupuk mata hamba dunia, yang sedang terlena di dunia fana. Padahal ajal diujung sana, menanti kita dengan seksama. Dan itu Pasti